My Profile

My Profile

Admin | Kata Sambutan

Salam' semuanya

Selamat Datang di muka'2 bloG

"muka'2 bloG sejak didirikannya pada tahun 2009 telah mendedikasikan diri berpartisipasi aktif dalam dunia informasi web cyber berbasis konten-konten ringan namun berkualitas seperti berbagi berita, berbagi ilmu pengetahuan, berbagi cerita dan kisah maupun seputar gaya hidup secara profesional, menarik, bermanfaat serta berwawasan terkhususnya bagi para pengunjung sekaligus pembacanya sekarang ini".

No SARA, No Provokatif or No Cyber Crime.

Terima kasih Kami ucapkan kepada follower muka'2 bloG semuanya.

Salam (Admin),
Manajemen muka'2 bloG

Newsticker your here ....

Loading...

Minggu, 24 Juli 2011

Ekonomi Keynes. Keynesianime



Dasar pandangan
Keynesianisme, atau ekonomi Keynesian atau Teori Keynesian, adalah suatu teori ekonomi yang didasarkan pada ide ekonom Inggris abad ke-20, John Maynard Keynes. Teori ini mempromosikan suatu ekonomi campuran, di mana baik negara maupun sektor swasta memegang peranan penting. Kebangkitan ekonomi Keynesianisme menandai berakhirnya ekonomi laissez-faire, suatu teori ekonomi yang berdasarkan pada keyakinan bahwa pasar dan sektor swasta dapat berjalan sendiri tanpa campur tangan negara.

Teori ini menyatakan bahwa trend ekonomi makro dapat memengaruhi perilaku individu ekonomi mikro. Berbeda dengan teori ekonom klasik yang menyatakan bahwa proses ekonomi didasari oleh pengembangan output potensial, Keynes menekankan pentingnya permintaan agregat sebagai faktor utama penggerak perekonomian, terutama dalam perekonomian yang sedang lesu. Ia berpendapat bahwa kebijakan pemerintah dapat digunakan untuk meningkatkan permintaan pada level makro, untuk mengurangi pengangguran dan deflasi. Jika pemerintah meningkatkan pengeluarannya, uang yang beredar di masyarakat akan bertambah sehingga masyarakat akan terdorong untuk berbelanja dan meningkatkan permintaannya (sehingga permintaan agregat bertambah). Selain itu, tabungan juga akan meningkat sehingga dapat digunakan sebagai modal investasi, dan kondisi perekonomian akan kembali ke tingkat normal.

Kesimpulan utama dari teori ini adalah bahwa tidak ada kecenderungan otomatis untuk menggerakan output dan lapangan pekerjaan ke kondisi full employment (lapangan kerja penuh). Kesimpulan ini bertentangan dengan prinsip ekonomi klasik seperti ekonomi supply-side yang menganjurkan untuk tidak menambah peredaran uang di masyarakat untuk menjaga titik keseimbangan di titik yang ideal.

Ketika kita melihat pemerintah yang boros, mereka yang berhutang dan terus berhutang, seperti mereka yang bertanggungjawab memerintah Inggris, Amerika Serikat, Yunani, Portugis, Spanyol, Perancis, Irlandia, dan yang lainnya; tentu ada ekonom di belakang mereka. Pada masa sepuluh hingga dua puluh tahun ini, ketika pemerintah mengeluarkan dana belanja jor-joran untuk dirinya, pastilah ada pejabat senior yang terlatih dengan baik dalam bidang ekonomi, yang memberi mereka saran yang “konsisten dan hebat” itu, yang sayangnya mesti berakhir dengan tangis.

Lihat saja pengeluaran yang dialokasikan negara untuk memerangi krisis keuangan global baru-baru ini. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa para ekonom senior di negara-negara itu mengusulkan agar negara mengurangi belanja. Malah sebaliknya. Ken Henry, ekonom Australia yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan (pen.), jelas tak menyarankan penghematan. Kita memerlukan paket stimulus dan kita memerlukannya sekarang, itu dia posisinya. Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner, adalah juga penyokong dana stimulus yang antusias dan nampaknya masih akan terus bersikap seperti itu jika kita melihat komentarnya dalam pertemuan G20 di Toronto pada Juni lalu.

Ke arah manapun kita melihat, ekonom yang duduk dalam pemerintahan nampaknya sudah dibajak oleh ekonom Keynesian yang percaya pada intervensi pemerintah terhadap pasar. Sebagian menganutnya karena politik, tapi tidak semuanya. Sebagian dari mereka yang disebut ekonom itu berideologi kiri. Tetapi, kebanyakan dari mereka, hanyalah korban dari seseorang yang digambarkan Thomas Woods dalam bukunya Meltdown sebagai “salah seorang eksentrik abad ke-20” yakni John Maynard Keynes.

Eksentrik atau tidak, Keynes telah melahirkan generasi bergenerasi ekonom dan politisi yang berfikir bahwa membelanjakan uang itu sama dengan menghasilkannya. Mungkin Anda ingat karakter yang dimainkan Michael Douglas dalam film War of the Roses ketika ia berkata pada istrinya (dimainkan oleh Kathleen Turner): “Lebih mudah untuk membelanjakan uang daripada menghasilkannya, Sayang!” Tapi, bagi ekonom Keynes, nampaknya tidak begitu.
Para ekonom Keynesian percaya pada argumen palsu dan aneh bahwa ekonomi bisa tumbuh dengan membelanjakan uang bukan membuatnya. Bagi mereka pengeluaran adalah pendorong utama ekonomi. Ada tiga faktor yang membuat kepercayaan ini bisa bertahan. Pertama, cara ekonomi di ajarkan; kedua, pembentukan “mitos” di sekitar ekonomi Keynesian; ketiga, teori-teori ekonomi makro dan cara penghitungan pendapatan nasional yang membuat mitos ekonomi Keynesian itu kebal dari segala pengalaman. Saya akan membahas ketiga faktor ini sebelum menilai apakah ini saat yang tepat untuk menumbangkan ekonomi Keynesian atau bukan.

Pengajaran Ekonomi
Di hampir seluruh belahan dunia, penasehat ekonomi bagi pemerintah belajar ekonomi makro melalui prisma ekonomi Keynesian, seakan mereka mirip dan serupa satu sama lain. Mereka percaya bahwa mendorong permintaan agregat (aggregate demand) melalui belanja negara adalah cara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meraih kemakmuran.

Kunci masalah ini sebetulnya adalah kata ekonomi makro itu sendiri. Sejarahnya tercemari, meski belum lama terjadi. Edisi OED (Oxford English Dictionary) yang saya lihat, baru menyebutnya pertama kali pada 1948. Tetapi nampaknya, berdasarkan berbagai sumber, istilah ini pertamakali digunakan oleh ekonom Norwegia Ragnur Frish pada 1933. Saat itu istilah ini tidak ramai digunakan, begitu juga istilah kembarnya ekonomi mikro. Keduanya mulai ramai digunakan pada akhir abad ke-20. Istilah ini memang menjadi populer dalam konteks ekonomi Keynesian. Keynes sendiri tidak menggunakan istilah ini dalam bukunya General Theory. Meski demikian, dialah yang melahirkannya. Keynesianisme dan ekonomi makro menjadi sinonim, bahkan hingga hari ini.

Ekonom klasik dari abad ke-19 dan ke-20, dari Adam Smith hingga J.S. Mill (serta ekonom neoklasik seperti Marshall dan Pigou yang mengikuti mereka pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 sebelum Keynes) menggabungkan gambar besar—negara dan perdagangan—dengan gambar kecil—rumah tangga, tenaga kerja dan perusahaan. Mereka melakukan hal yang benar karena gambar besar dan gambar kecil itu terkait satu sama lain. Anda tak bisa melihat yang satu tanpa mempertimbangkan yang lain.

Keynesianisme membuat pemisahan pedagodis dalam ilmu ekonomi yang tidak relevan dengan cara ekonomi bekerja. Bukuajar ekonomi dibagi menjadi dua bagian: ekonomi mikro dan ekonomi makro. Ekonomi makro memiliki jalan hidup sendiri. Ekonomi makro selalu berbicara tentang agregat dalam kerangka Keynesian, yang nampak berbeda dengan cara ekonomi bekerja di tingkat rumahtangga, tenaga kerja, perusahaan. Keynes dan pengikutnya menemukan dunia buatan baru yang sebetulnya tak kena mengena dengan kekuatan-kekuatan dasar ekonomi. Ia tak memiliki topangan, tak punya kaki. Mencoba memahami bagaimana ekonomi bekerja dan membuatnya tepat guna dengan ekonomi makro adalah seperti mencoba memahami bagaimana sebuah mesin bekerja, bagaimana membetulkannya, tanpa memperhatikan bagian-bagiannya dan bagaimana mereka bekerja.

Inilah mengapa sekarang ini para ekonom di sektor publik, ekonom di universitas, komentator ekonomi, dengan ekonomi Keynesiannya, kebingungan. Mereka bertanya-tanya: apa yang terjadi? Pemerintah kita sudah berbelanja banyak, meminjam banyak, tapi ekonomi kita masih saja resesi dan bahkan semakin memburuk. Mereka tidak punya teori ekonomi yang terpadu sebagai panduan.

Belajar ekonomi sejak Keynes hampir sama dengan membuat diri Anda gila. Anda harus belajar mengenai ekonomi mikro dan betapa kompleksnya cara ekonomi pasar bekerja. Kemudian Anda harus mengesampingkan semua itu ketika Anda belajar ekonomi makro, yang sama sekali tidak memperhatikan bagaimana rumitnya cara ekonomi bekerja.

Paul Krugman, dalam tulisannya di New York Times setelah pertemuan G20 Juni lalu, dengan putus asa menyatakan bahwa nampaknya depresi baru akan datang tak lama lagi. Ia mengeluh bahwa pemerintah “malah berbicara soal pentingnya penghematan padahal masalah utama dari krisis ini adalah kurangnya belanja”. Paling tidak kita bisa katakan Paul Krugman itu konsisten. Ia percaya dengan cerita rekaan itu hingga akhir. Tapi bagaimana dengan para ekonom yang sebelumnya berdakwah dengan teks-teks Keynesian tetapi sekarang malah menyarankan pemerintah untuk melakukan penghematan? Apa yang mereka gunakan sebagai teks rujukan sekarang? Tidak ada. Jikapun ada, teks rujukan itu adalah yang biasa kita sebut sebagai ekonomi pra-Keynesian, dan nampaknya mereka tidak tahu apa-apa tentang itu. Mereka menerbangkan pesawat sambil menutup mata, padahal kita semua ada di dalamnya. Mereka tidak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi karena kita bisa saja panik, atau mungkin saja, mereka takut kehilangan kredibilitas mereka.

Pertanyaan yang mesti muncul adalah apakah kegagalan resep ekonomi Keynesian dalam menangani krisis keuangan global ini akan menghapuskan Keynesianisme dan para pendakwahnya?

Mitos Ekonomi Keynesian
Pertanyaan tadi bagus dan semestinya dijawab dengan jawaban yang pasti. Tapi saya tidak tahu apakah saya punya jawaban jenis itu. Tapi jelas bahwa Keynesianisme akan sulit untuk digantikan, karena Keynesianisme adalah sejenis conventional wisdom, katakanlah mitos, yang digambarkan oleh J.K Galbraith pada 1958 dalam bukunya The Affluent Society. Tak hanya itu, mitos itu memiliki mekanisme untuk mempertahankan dirinya dari apa yang disebut oleh Galbraith sebagai “sejumlah prahara” (march of events).

Galbraith menjelaskan bahwa ketika mitos itu menjadi mapan, ia tak mudah untuk ditumbangkan. Mereka akan bertahan dari ancaman tanpa takut dan cemas.
Mereka memiliki perbendaharaan literatur, bahkan aura mistis. Para pendukungnya akan bisa mengatakan bahwa para penentang mitos adalah mereka yang belum memahami seluk-beluknya…mitos, yang menyerupai pengetahuan, akan sulit dipatahkan. Mereka yang meragukannya dianggap tidak memiliki kualifikasi…mereka yang dianggap ahli yang sesungguhnya adalah mereka yang mengikuti mitos itu.

Hanya dengan terjadinya “sejumlah prahara”, Galbraith menjelaskan, mitos bisa ditumbangkan: “ saat dunia berubah, mitos bisa menjadi usang. Tetapi tidak bisa usang sepenuhnya. Ia bisa menjadi betul-betul usang…jika mitos itu gagal menangani “ketakterdugaan atau situasi darurat” (contingency) dan jelas-jelas tak bisa dipakai lagi.”

Banyak kekhawatiran yang muncul setelah resep ekonomi Keynesian dipakai untuk menangani krisis keuangan global. Kekhawatiran ini bisa kita lihat sebagai sejumlah prahara yang bisa menjadi petaka bagi Keynesianisme. Peningkatan belanja pemerintah telah gagal menyehatkan ekonomi dan justru membuat mereka terperangkap dalam hutang. Tapi Keynesianisme masih mempunyai jampi-jampi kebal yakni pendapatan nasional dan teori-teori ekonomi makro. Kedua jampi kebal itu masih ampuh hingga hari ini untuk melindungi Keynesianisme dari sejumlah prahara.

Jampi Kebal Ekonom Keynesian
Cara penghitungan pendapatan nasional modern memang dibuat sejalan dengan teori Keynesian. Di satu sisi ada permintaan dalam bentuk agregat pengeluaran (pengeluaran penduduk atau non-penduduk untuk konstruksi, pengeluaran konsumen, dan belanja pemerintah); dan di sisi lain ada produksi. Kenaikan dalam agregat pengeluaran tertentu akan diperlihatkan sebagai kontribusi bagi PDB (Produk Domestik Bruto).

Sebagian besar analis pendapatan nasional sebetulnya tak faham bagaimana pendapatan nasional bisa dihitung seperti itu dan apa maknanya. Tapi, politisi biasanya punya cerita untuk dieksploitasi. Mereka ingin memperlihatkan bahwa tindakan mereka, termasuk dana belanja negara yang besar, memiliki dampak yang baik. Ekonom semestinya menghargai angka dengan lebih baik dan memberikan pandangan yang berimbang, tapi itu tidak terjadi.

Ekonom yang bekerja di dalam atau di luar pemerintah rentan untuk menghadirkan pendapatan nasional seperti yang tertera dalam kertas dan melaporkan bahwa dana yang dikeluarkan untuk stimulus ekonomi seperti yang disarankan oleh Keynesianisme itu menyelamatkan ekonomi. Padahal, pendapatan nasional tidak memperlihatkan bukti-bukti untuk itu. Semua hanyalah fatamorgana. Jika pemerintah membelanjakan satu dolar; pembelanjaan ini akan diperlihatkan sebagai kontribusi untuk PDB dalam periode itu. Dan pembelanjaan itu akan tetap diperlihatkan demikian meskipun uang satu dolar itu digunakan untuk impor dan dengan demikian, sebenarnya, tidak berkontribusi pada PDB.

Uang yang mengalir melalui sistem ekonomi itu bisa berganti (anda tak bisa membedakan satu dolar yang satu dengan satu dolar yang lain). Jadi, apakah uang yang satu dolar itu dibelanjakan untuk impor atau untuk barang produksi dalam negeri, tak ada cara untuk mengetahuinya. Jika semua uang yang keluar itu dibelanjakan untuk impor, pendapatan nasional akan memperlihatkan kontribusi dari belanja pemerintah dan kenaikan (yang berarti kontribusi negatif) dalam impor. Tak ada cara untuk mengetahui apakah uang yang tadi dipergunakan untuk impor atau bukan, dan jika pun iya, pendapatan nasional tetap akan dipaparkan sebagaimana biasa.

Jadi, dihitungnya belanja pemerintah sebagai kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi itu tak ada artinya. Itu hanya klise, karena memang begitulah cara pendapatan nasional dihitung. Pendapatan nasional tidak menunjukkan bahwa pengeluaran untuk stimulus itu berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi; ia hanya menunjukkan bagaimana pendapatan nasional itu dibuat atau dihitung.

Jika pemerintah membelanjakan uang yang diberikan pembayar pajak untuk, misalnya, membangun perpustakaan sekolah dengan biaya yang wajar, uang ini akan diperlihatkan dalam pendapatan nasional sebagai kontribusi terhadap PDB. Jika perpustakaan yang sama dibangun dengan biaya yang digelembungkan, uang tersebut juga akan diperlihatkan dalam pendapatan nasional sebagai kontribusi terhadap PDB. Jika perpustakaan yang sama kemudian diruntuhkan dengan biaya pemerintah, uang yang digunakan itu pun akan diperlihatkan dalam pendapatan nasional sebagai kontribusi terhadap PDB. Lebih parah lagi bila pemerintah mengambil bantuan dari sektor swasta untuk membangun perpustakaan sekolah, ini akan diperlihatkan, dan bahkan ditulis, sebagai bukti bahwa ekonomi diselamatkan dari turunnya aktivitas dalam sektor swasta dengan belanja pemerintah.

Setelah krisis keuangan global ini, masalah-masalah ekonomi menjadi semakin penting daripada ketika suasana ekonomi stabil. Pemikiran ekonomi yang keliru jelas berdampak lebih berbahaya. Membuat, atau membenarkan, penafsiran terhadap angka-angka dalam pendapatan nasional tidak akan membantu. Untuk menafsirkan angka-angka itu secara tepat dan membuat debat ekonomi menjadi lebih jelas, orang hanya membutuhkan pemahaman dasar terhadap pendapatan nasional, seperti yang diajarkan dalam pelajaran ekonomi dasar.

Padahal, pendapatan nasional hanya satu faktor saja yang membuat debat ekonomi menjadi kabur. Masih ada faktor lain yang perlu dijelaskan, ketika ekonomi Keynesian tetap dipercaya tanpa batas dan ekonom yang bekerja untuk negara menggunakan teori-teori ekonomi makro mereka.

Sebetulnya serumit apapun teorinya, semuanya berdasarkan buku panduan ekonomi makro yang mendefinisikan produksi sebagai penambahan pengeluaran konsumsi individu dengan pengeluaran investasi swasta, dengan belanja pemerintah, dengan ekspor dan kemudian dikurangi impor. Dalam teori itu juga akan ditemukan adanya hubungan positif antara kenaikan produksi dengan penurunan tingkat pengangguran.

Dalam teori ini, jika Anda menaikkan belanja pemerintah, tentu saja ia akan menaikkan produksi dan mengurangi pengangguran. Tetapi harus diingat bahwa teori ini tetap akan memperlihatkan bahwa kenaikan dalam belanja pemerintah akan berkontribusi positif terhadap pertumbahan ekonomi, meski tingkat pengangguran naik atau turun. Karena itulah, meski pengalaman ekonominya berbeda, pemerintah Australia dan Amerika bisa sama-sama mengklaim bahwa belanja pemerintah bisa menciptakan lapangan kerja.

Dalam dokumen anggaran belanjanya tahun ini, pemerintah Australia mengklaim bahwa dana stimulus yang mereka keluarkan sudah menciptakan atau menyelamatkan 225.000 pekerjaan. Pemerintah Amerika Serikat mengklaim bahwa pada pertengahan Juli lalu, paket stimulus ekonominya untuk pekerjaan padat karya, yang ditetapkan dengan buru-buru sebagai undang-undang pada 17 Februari 2009 lalu, telah menciptakan atau menyelamatkan 3 juta pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan yang diklaim di Australia dan Amerika Serikat ini tidak pernah disurvei dan dihitung secara langsung, dan dinilai apakah mereka benar-benar merupakan hasil dari pemberian stimulus. Angka-angka ini dihasilkan oleh teori ekonomi makro. Padahal, jumlah tenaga yang dipekerjakan di Australia telah naik sejak awal 2009 dan turun sebesar 2,3 juta (dari akhir Februari 2009 sampai akhir Juni 2010) di AS. Jadi, tingkat pengangguran itu naik atau turun tidaklah penting, karena stimulus sudah berhasil. Paling tidak Christina Romer, yang memimpin Dewan Ekonomi Gedung Putih, dalam pandangan saya terlihat malu ketika ia mengumumkan keberhasilan menciptakan 3 juta pekerjaan yang tak bisa dipercaya itu.

Memang tidak ada ada dasar bagi ide bahwa belanja negara untuk stimulus itu bisa menciptakan pekerjaan seperi yang diklaim oleh pemerintah Australia dan Amerika Serikat. Itu hanyalah fiksi yang mereka ciptakan untuk meraih kredibilitas karena data-data itu akan tersimpan dalam catatan publik. Teori ekonomi makro tidak bisa digunakan untuk memperlihatkan bahwa uang tertentu yang dikeluarkan oleh pemerintah bisa menciptakan atau telah menciptakan sekian jumlah pekerjaan.

Ketika saya mulai belajar statistik, saya, seperti murid statistik lainnya, disodori sejumlah contoh lucu tentang bahayanya mengambil kesimpulan berdasarkan korelasi. Contoh yang diberikan pada saya waktu itu adalah jelasnya hubungan antara meningkatnya jumlah orang yang dilantik menjadi pastor dengan meningkatnya tingkat kejahatan di jalanan. Contoh ini memperlihatkan kekeliruan yang bisa dibuat karena mencampuradukkan korelasi dengan hubungan sebab-akibat. Tetapi, semua model statistik, serumit apapun mereka, mesti tergantung pada data runut waktu (time-series data) atau cross-sectional data, serta hubungan yang terukur antara variabel-variabel tertentu untuk menunjuk adanya kemungkinan sebab-akibat. Tak ada cara lain. Kita tahu bahwa satu hal pasti menyebabkan hal lain (seperti jika air dipanaskan maka air itu akan mendidih), dan kita tak butuh statistik untuk itu. Tapi kita juga kadang berurusan dengan faktor penyebab yang tak diketahui, karenanya kita pun tergantung pada statistik untuk memberikan estimasi mengenai faktor mana yang menyebabkan sesuatu terjadi dan seberapa besar kemungkinan itu.

Ilmuwan sosial sadar akan kekurangan model-model ini dan kemungkinannya untuk menghasilkan kesimpulan yang salah. Dua variabel bisa terlihat seperti sebab dan akibat, padahal keduanya bisa jadi terkait dengan faktor ketiga dan atau hanya akibat sampingan dari faktor ketiga itu. Jadi, relasi sebab-akibat bisa nampak jelas, padahal sama sekali tidak ada. Kesimpulan yang keliru bisa diambil terutama jika estimasi itu menggunakan sampel yang tak tepat. Tak ada cara untuk mengetahui bahwa hubungan sebab-akibat yang diukur dengan menggunakan data yang diambil dari masa lalu bisa menjelaskan masa kini atau masa yang akan datang. Misalnya, memang PBD ril meningkat dan tingkat pengangguran menurun dalam sepuluh atau dua puluh tahun bersamaan dengan meningkatnya PDB ril dan belanja pemerintah. Tetapi, adalah keliru jika kita menyimpulkan bahwa peningkatan tertentu dalam belanja pemerintah akan menurunkan jumlah penganguran sebanyak sekian. Kehidupan ekonomi jauh lebih rumit dari itu. Sayangnya inilah yang para ekonom Keynesian itu ingin kita menelannya. Jika kesimpulan ini kita telan, Keynesianisme bisa bertahan dari berbagai prahara; jika tingkat pengangguran naik, Keynesianisme akan mengatakan bahwa mereka telah menyelamatkan pekerjaan dan mencegah sesuatu yang lebih buruk terjadi; jika tingkat pengangguran menurun, Keynesianisme akan mengatakan bahwa mereka sudah menciptakan pekerjaan dan menyelamatkan ekonomi dari resesi.

Saya tidak hanya mengatakan bahwa teori-teori ekonomi makro itu tak komplit, meski itu juga benar. Teori-teori ini tidak bisa mengontrol atau menggambarkan dampak-dampak negatif dan disruptif dari peningkatan belanja pemerintah terhadap aktivitas sektor swasta. Yang ingin saya katakan disini sebenarnya adalah teori-teori ekonomi makro itu tidak cocok untuk tujuan yang ingin mereka capai. Mereka akan memberikan jawaban yang sama pada kondisi apapun. Mereka dibuat untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan kebijakan ala Keynesian, dan terus dipakai untuk memberikan informasi mengenai kesuksesan atau kegagalan kebijakan itu.

Pertanyaannya, apakah dengan jampi kebal ini, Keynesianisme akan menyerah kalah setelah sejumlah prahara ekonomi yang terjadi di Eropa dan AS paska krisis keuangan global? Memakai istilah Galbraith, apakah “ketakterdugaan” terjadinya resesi dan krisis hutang, setelah pengeluaran jor-joran untuk stimulus, cukup untuk menunjukkan bahwa Keynesianisme “benar-benar sudah usang dan tak bisa lagi dipraktikkan”? Atau saya ulang pertanyaan saya yang lalu: “bisakah Keynesianisme ditumbangkan”?

Menumbangkan Keynesianisme
Jawaban saya untuk pertanyaan di atas pendek saja: saya tidak tahu, tapi seharusnya ia tumbang.
Keynesianisme percaya bahwa ekonomi didorong oleh permintaan. Jika permintaan sektor swasta tidak cukup, mereka percaya bahwa permintaan itu mesti ditambah dengan permintaan pemerintah agar semua orang bisa bekerja (full employment). Kunci untuk menumbangkan Keynesianisme—jika kita harus menumbangkannya—adalah dengan berpegang pada teori ini.

Jika sumberdaya dipergunakan, ekonom Keynesian percaya bahwa belanja pemerintah akan selalu menghasilkan keuntungan. Belanja pemerintah akan memberikan keuntungan ekonomi secara langsung dan tak langsung hingga keuntungannya melebihi biaya ekonomi ril. Tetapi, pasti ada resiko juga di situ. Keynes sendiri meramalkan adanya kemungkinan belanja dan hutang pemerintah menggantikan posisi permintaan sektor swasta. Tapi dalam pandangan Keynes, kerugian itu kecil nilainya dibandingkan keuntungan yang akan didapat.

Jika ekonom Keynesian tidak percaya dengan ini, saya tidak tahu lagi apa yang mereka percayai. Saya yakin Paul Krugman percaya ini, dan mungkin juga Geithner. Tapi bagaimana dengan pemerintah dan para penasehat ekonominya yang sekarang menganjurkan penghematan dalam situasi resesi ekonomi ini; dengan banyak sekali sumber daya tak terpakai yang siap untuk digunakan? Apakah mereka masih Keynesian? Apa yang mereka percaya sekarang?

Jika Keynesianime memang mujarab, ia akan mujarab. Meski hutang pemerintah menggunung, para ekonom Keynesian mestinya menjelaskan dengan penuh keyakinan bahwa pemerintah Eropa harus mengeluarkan dana stimulus lagi karena itu akan baik bagi mereka. Mereka juga mesti menjelaskan bahwa stimulus ini akan memberi mereka keuntungan bersih dan uang untuk membayar hutang. Jika mereka cukup yakin, mungkin pasar modal akan mendukung mereka. Tapi semua itu tidak terjadi karena sebagian besar dari mereka sudah tidak percaya lagi dengan ekonomi Keynesian; meski mungkin masih bisa terlena dalam jebakannya.

Sekaranglah waktu yang tepat untuk melepaskan jebakan itu. Ada sesuatu yang mesti dikembalikan pada tempatnya. Sesuatu itu adalah memahami ekonomi seperti para ekonom sebelum Keynes memahaminya: sebagai kesatuan dan sebagai kumpulan dari berbagai bagian yang saling terkait, bukan sekumpulan terbatas agregat yang tak jelas.

Krisis utang Eropa dan Amerika Serikat adalah sejumlah prahara yang harus dijawab oleh Keynesianisme. Ia jelas-jelas gagal dan harus dibuang. Waktu sudah menunjukkan kelemahannya. Ia sebenarnya memang lemah dan tak berdaya tapi dampak negatifnya disembunyikan oleh para ekonom dengan membeberkan bukti palsu dan bohong tentang kesuksesannya; oleh daya tahan ekonomi pasar meski pemerintah mengelola ekonomi dengan keliru; dan oleh fakta bahwa pemerintah yang boros sekalipun butuh waktu untuk menghabiskan kekayaannya.

Ada pengakuan dalam ekonomi bahwa pemerintah memberikan bantuan yang sangat penting dan besar bagi kemajuan ekonomi dengan menjaga hak-hak kepemilikan melalui hukum. Pemerintah berperan memberikan payung hukum bagi bekerjanya mekanisme pasar. Kebijakan ekonomi pemerintah pun mesti bersifat demikian. Prinsipnya adalah pemerintah mesti menyediakan lingkungan yang stabil, suportif dan fleksibel bagi ekonomi pasar dan konstituennya yakni rumah tangga, tenaga kerja dan perusahaan, agar mereka bisa berkembang dalam waktu yang normal dan, yang lebih penting lagi, menyesuaikan diri dalam saat-saat sulit.

Politik dan ekonomi nampak saling terkait belakangan ini. Ekonomi mesti objektif. Ekonomi menjadi subjektif di tangan kelompok Kiri yang menyukai kecendrungan Keynesianisme dalam memberikan negara hak mengintervensi pasar. Pertanyaannya dengan demikian bukan soal benar atau salah, tetapi apakah kapitalisme memang harus diselamatkan dari dirinya sendiri oleh pemerintahan yang besar. Krisis hutang di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa pemerintahan yang besar adalah masalahnya, dan Keynesianisme adalah bagian dari masalah itu.

Para ekonom, khususnya mereka yang bekerja untuk pemerintah, mesti membuang teori ekonomi makro mereka yang sekarang ke tong sampah, dan mungkin, mulai membaca teks-teks ekonomi yang lebih tua. Mereka mesti membangun teori ekonomi makro mereka di sekitar teori-teori ekonomi mikro, bukan sebagai ruh yang tak berbadan. Meskipun susah, mesti dicoba, karena bila tidak, menumbangkan Keynesianisme akan seperti menumbangkan sosialisme. Ia akan muncul lagi, dan lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Film Laris | Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno (2014)

Sinopsis (Jalan Ceritanya)

Bioskop25.com - Batosai adalah seorang samurai yang memiliki tanda ‘X’ di wajahnya. Pada masa lalunya dia adalah seorang pembunuh yang terkenal, namun sekarang dia sudah meninggalkan berbagai hal buruk dan menjalani hidup sebagai Kenshin Himura bersama keluarga barunya. Namun, suatu ketika dia harus kembali berjuang melawan musuhnya Shishio Makoto demi melindungi orang-orang yang dicintainya.

Notes : "terupdate", dibutuhkan "Kecepatan bandwith 14mbps" untuk nyamannya!!!

Selamat Menonton
by Admin Muka'2 bloG

My Facebook

No Don't Copypaste ! Thanks'u